tak ada inspirasi yang menghampiri pikiranku..
sulit untuk mendapatkannya
ku coret lembar demi lembar kertas
tapi tak ada satupun puisi yang ku dapat !!!
aaarrrggghhhh......
ada apa dengan pikiranku???
tak dapat ku temui satu kata pun,
bahkan satu hurup pun
kemana kalian pergi????
jangan tinggalkan aku....
aku butuh kata untuk ku rangkai menjadi sebuah puisi indah..
menjadi ungkapan cinta dan perasaan yang kini ku rasa..
aku tak pandai merangkai kata..
aku tak mudah menemukan inspirasi..
tapi...aku juga ingin rasa cinta yang ku miliki tak mudah untuk berpaling :)
aku hanya dapat berkarya saat aku tersesat dalam imajinasiku!!! entah sampai kapan aku akan tersesat... sebelum ku temukan jalan pulang, aku akan tetap berkarya...:)
- See more at: http://www.mybloggerwidgets.com/2013/04/add-snow-falling-effect-in-blogger.html#sthash.H9P4j4nT.dpuf
Friday, 3 May 2013
Sunday, 21 April 2013
kissah panji semirang
Panji Semirang
Cerita dari Jawa Timur
Tersebutlah sebuah kerajaan
bernama Jenggala, dengan putra mahkotanya bernama Raden Inu Kertapati. Dia
berwajah rupawan, badannya tegap, dan sangat ramah kepada siapa saja, tanpa
memandang status dan jabatannya. Dia sudah bertunangan dengan Dewi Candra Kirana, putri
Kerajaan Kediri.
Suatu waktu, Raden Inu
Kertapati berangkat ke Kerajaan Kediri untuk menemui tunangannya. Rombongannya
lengkap dengan perbekalan dan pengawal yang siap siaga.
Di tengah perjalanan,
rombongan Raden Inu
diberhentikan oleh gerombolan dari Negeri Asmarantaka yang dipimpin oleh Panji
Semirang. Melihat ada orang yang menyuruhnya berhenti Raden Inu bersiap-siap
seandainya harus bertempur. Akan tetapi gerombolan tersebut tidak menyerang
mereka. Mereka hanya
meminta Raden Inu untuk bertemu dengan pemimpinnya, Panji Semirang.
Tanpa rasa takut Raden Inu menemui Panji Semirang, yang
menyambutnya dengan ramah, sehingga Raden Inu bertanya, “Rupanya engkau tidak
seperti yang selama
ini diceritakan orang-orang, wahai Panji Semirang?”. Panji Semirangpun
mengatakan bahwa selama ini dia hanya mengundang rombongan untuk bertemu
dengannya, siapa yang tidak berkenan, maka tidak dipaksa.
Akhirnya Raden Inu
melanjutkan perjalanannya,
setelah menceritakan bahwa dia sedang menuju Negeri Kediri, untuk menemui calon
istrinya, Dewi Candra Kirana.
Radin Inu baru pertama kali
bertemu dengan Panji Semirang. Namun selama pertemuan tersebut dia merasa
seperti sudah mengenalnya sebelumnya, sehingga langsung merasa akrab. Hanya saja Raden Inu
tidak dapat mengingat kapan dan di mana dia mengenal Panji
Semirang. Setelah merasa cukup berbincang-bincang dengan Panji Semirang,
Raden Inupun melanjutkan perjalanannya menuju Kediri.
Tiba di Kediri, rombongan Raden Inu disambut
dengan meriah. Bahkan selir Raja Kediri bernama Dewi Liku yang memiliki putri
bernama Dewi Ajeng ikut menyambut kehadiran Raden Inu Kertapati. Hanya saja
Raden Inu tidak melihat kehadiran Dewi Candra Kirana. Ketika Raden Inu menanyakan keberadaan Dewi
Candra Kirana, Dewi Ajeng mengatakan bahwa Dewi Candra Kirana menderita sakit
ingatan dan sudah pergi lama dari kerajaan.
Mendengar keterangan
kepergian Dewi Candra Kirana, Raden Inu kaget sekali sehingga jatuh pingsan.
Iapun segera dibawa
masuk ke dalam istana. Memanfaatkan kesempatan ini, dan dengan tipu
muslihatnya, akhirnya Dewi Liku berhasil memperdaya Raja Kediri sehingga
menikahkan Raden Inu Kertapati dengan Dewi Ajeng. Menjelang acara pernikahan
ini segala macam persiapan diperintahkan oleh Raja Kediri, pesta yang sangat meriah.
Rupanya rencana jahat Dewi
Liku tidak berhasil. Tiba-tiba terjadi kebakaran hebat yang menghancurkan
seluruh persiapan pernikahan tersebut. Melihat kejadian tersebut, Raden Inu dan
rombonganpun meninggalkan
istana, dan setelah berada jauh dari istana, diapun tersadar dan teringat
kembali dengan Dewi Candra Kirana, yang sangat mirip sekali dengan Panji
Semirang. Dia berpikir bahwa bisa jadi Panji Semirang adalah Dewi Candra
Kirana. Kemudian dia dan seluruh rombongannya menuju Negeri Asmarantaka, tempat Panji Semirang berada.
Rupanya Panji Semirang
sudah meninggalkan negeri tersebut. Tanpa putus asa, Raden Inu mencari
keberadaan Panji Semirang hingga akhirnya tibalah mereka di Negeri Gegelang,
yang rajanya masih
kerabat dari Raja Jenggala. Di Negeri Gegelang ini Radn Inu disambut dengan
gembira. Rupanya, Negeri Gegelang sedang menghadapi kesulitan, yaitu sedang
diganggu oleh gerombolan perampok yang dipimpin oleh Lasan dan Setegal.
Akhirnya, Raden Inu Kertapati bersama-sama dengan pasukan dari Negeri Gegelang menghadapi para
perampok. Raden Inu mengerahkan segenap kemampuannya menghadapi perampok
tersebut, dan berhasil mengalahkannya hingga pimpinan perampok tersebut mati.
Pesta tujuh hari tujuh alam
diadakan untuk
menyambut kemenangan Raden Inu Kertapati dan pasukannya. Pada malam terakhir
pesta tersebut Raja memanggil seorang ahli pantun, seorang pemuda bertubuh
gemulai. Pantun yang dibawakannya berisi cerita perjalanan hidup Dewi Candra
Kirana dan Raden Inu
Kertapati, hal yang membuat Raden Inu menjadi sangat penasaran sehingga
akhirnya menyelediki siapa sebenarnya ahli pantun tersebut. Selidik punya
selidik, rupanya rupanya ahli pantun tersebut memang adalah Panji Semirang
alias Dewi Candra Kirana. Dewi Candra Kirana bercerita bahwa memang Dewi Liku yang membuatnya hilang
ingatan hingga akhirnya keluar dari istana Daha. Dia disembuhkan oleh seorang
pertapa yang memiliki kemampuan mengobati berbagai penyakit.
Setelah semua misteri
terungkap jelas, akhirnya Raden Inu Kertapati kembali ke Negeri Jenggala untuk melangsungkan
pernikahan meriah, dan menjadi sepasang suami istri yang hidup berbahagia.
Saturday, 20 April 2013
kisah singkat Ramayana
RAMAYANA
Dikisahkan di
sebuah negeri bernama Mantili ada seorang puteri nan cantik jelita bernama Dewi
Shinta. Dia seorang puteri raja negeri Mantili yaitu Prabu Janaka. Suatu hari
sang Prabu mengadakan sayembara untuk mendapatkan sang Pangeran bagi puteri tercintanya yaitu
Shinta, dan akhirnya sayembara itu dimenangkan oleh Putera Mahkota Kerajaan
Ayodya, yang bernama Raden Rama Wijaya. Namun dalam kisah ini ada juga seorang
raja Alengkadiraja yaitu Prabu Rahwana, yang juga sedang kasmaran, namun bukan kepada Dewi Shinta
tetapi dia ingin memperistri Dewi Widowati. Dari penglihatan Rahwana, Shinta
dianggap sebagai titisan Dewi Widowati yang selama ini diimpikannya. Dalam
sebuah perjalanan Rama dan Shinta dan disertai Lesmana adiknya, sedang melewati
hutan belantara yang
dinamakan hutan Dandaka, si raksasa Prabu Rahwana mengintai mereka bertiga,
khususnya Shinta. Rahwana ingin menculik Shinta untuk dibawa ke istananya dan
dijadikan istri, dengan siasatnya Rahwana mengubah seorang hambanya bernama
Marica menjadi seekor
kijang kencana. Dengan tujuan memancing Rama pergi memburu kijang ‘jadi-jadian'
itu, karena Dewi Shinta menginginkannya. Dan memang benar setelah melihat
keelokan kijang tersebut, Shinta meminta Rama untuk menangkapnya. Karena
permintaan sang istri
tercinta maka Rama berusaha mengejar kijang seorang diri sedang Shinta dan
Lesmana menunggui.
Dalam waktu sudah cukup lama ditinggal berburu, Shinta mulai mencemaskan Rama, maka meminta Lesmana untuk mencarinya. Sebelum meninggalkan Shinta seorang diri Lesmana tidak lupa membuat perlindungan guna menjaga keselamatan Shinta yaitu dengan membuat lingkaran magis. Dengan lingkaran ini Shinta tidak boleh mengeluarkan sedikitpun anggota badannya agar tetap terjamin keselamatannya, jadi Shinta hanya boleh bergerak-gerak sebatas lingkaran tersebut. Setelah kepergian Lesmana, Rahwana mulai beraksi untuk menculik, namun usahanya gagal karena ada lingkaran magis tersebut. Rahwana mulai cari siasat lagi, caranya ia menyamar yaitu dengan mengubah diri menjadi seorang brahmana tua dan bertujuan mengambil hati Shinta untuk memberi sedekah. Ternyata siasatnya berhasil membuat Shinta mengulurkan tangannya untuk memberi sedekah, secara tidak sadar Shinta telah melanggar ketentuan lingkaran magis yaitu tidak diijinkan mengeluarkan anggota tubuh sedikitpun! Saat itu juga Rahwana tanpa ingin kehilangan kesempatan ia menangkap tangan dan menarik Shinta keluar dari lingkaran. Selanjutnya oleh Rahwana, Shinta dibawa pulang ke istananya di Alengka. Saat dalam perjalanan pulang itu terjadi pertempuran dengan seekor burung Garuda yang bernama Jatayu yang hendak menolong Dewi Shinta. Jatayu dapat mengenali Shinta sebagai puteri dari Janaka yang merupakan teman baiknya, namun dalam pertempuan itu Jatayu dapat dikalahkan Rahwana.
Disaat yang sama Rama terus memburu kijang kencana dan akhirnya Rama berhasil memanahnya, namun kijang itu berubah kembali menjadi raksasa. Dalam wujud sebenarnya Marica mengadakan perlawanan pada Rama sehingga terjadilah pertempuran antar keduanya, dan pada akhirnya Rama berhasil memanah si raksasa. Pada saat yang bersamaan Lesmana berhasil menemukan Rama dan mereka berdua kembali ke tempat semula dimana Shinta ditinggal sendirian, namun sesampainya Shinta tidak ditemukan. Selanjutnya mereka berdua berusaha mencarinya dan bertemu Jatayu yang luka parah, Rama mencurigai Jatayu yang menculik dan dengan penuh emosi ia hendak membunuhnya tapi berhasil dicegah oleh Lesmana. Dari keterangan Jatayu mereka mengetahui bahwa yang menculik Shinta adalah Rahwana! Setelah menceritakan semuanya akhirnya si burung garuda ini meninggal.
Mereka berdua memutuskan untuk melakukan perjalanan ke istana Rahwana dan ditengah jalan mereka bertemu dengan seekor kera putih bernama Hanuman yang sedang mencari para satria guna mengalahkan Subali. Subali adalah kakak dari Sugriwa paman dari Hanuman, Sang kakak merebut kekasih adiknya yaitu Dewi Tara. Singkat cerita Rama bersedia membantu mengalahkan Subali, dan akhirnya usaha itu berhasil dengan kembalinya Dewi Tara menjadi istri Sugriwa. Pada kesempatan itu pula Rama menceritakan perjalanannya akan dilanjutkan bersama Lesmana untuk mencari Dewi Shinta sang istri yang diculik Rahwana di istana Alengka. Karena merasa berutang budi pada Rama maka Sugriwa menawarkan bantuannya dalam menemukan kembali Shinta, yaitu dimulai dengan mengutus Hanuman persi ke istana Alengka mencari tahu Rahwana menyembunyikan Shinta dan mengetahui kekuatan pasukan Rahwana.
Taman Argasoka adalah taman kerajaan Alengka tempat dimana Shinta menghabiskan hari-hari penantiannya dijemput kembali oleh sang suami. Dalam Argasoka Shinta ditemani oleh Trijata kemenakan Rahwana, selain itu juga berusaha membujuk Shinta untuk bersedia menjadi istri Rahwana. Karena sudah beberapa kali Rahwana meminta dan ‘memaksa' Shinta menjadi istrinya tetapi ditolak, sampai-sampai Rahwana habis kesabarannya yaitu ingin membunuh Shinta namun dapat dicegah oleh Trijata. Di dalam kesedihan Shinta di taman Argasoka ia mendengar sebuah lantunan lagu oleh seekor kera putih yaitu Hanuman yang sedang mengintainya. Setelah kehadirannya diketahui Shinta, segera Hanuman menghadap untuk menyampaikan maksud kehadirannya sebagai utusan Rama. Setelah selesai menyampaikan maskudnya Hanuman segera ingin mengetahui kekuatan kerajaan Alengka. Caranya dengan membuat keonaran yaitu merusak keindahan taman, dan akhirnya Hanuman tertangkap oleh Indrajid putera Rahwana dan kemudian dibawa ke Rahwana. Karena marahnya Hanuman akan dibunuh tetapi dicegah oleh Kumbakarna adiknya, karena dianggap menentang, maka Kumbakarna diusir dari kerjaan Alengka. Tapi akhirnya Hanuman tetap dijatuhi hukuman yaitu dengan dibakar hidup-hidup, tetapi bukannya mati tetapi Hanuman membakar kerajaan Alengka dan berhasil meloloskan diri. Sekembalinya dari Alengka, Hanuman menceritakan semua kejadian dan kondisi Alengka kepada Rama. Setelah adanya laporan itu, maka Rama memutuskan untuk berangkat menyerang kerajaan Alengka dan diikuti pula pasukan kera pimpinan Hanuman.
Setibanya di istana Rahwana terjadi peperangan, dimana awalnya pihak Alengka dipimpin oleh Indrajid. Dalam pertempuran ini Indrajid dapat dikalahkan dengan gugurnya Indrajit. Alengka terdesak oleh bala tentara Rama, maka Kumbakarna raksasa yang bijaksana diminta oleh Rahwana menjadi senopati perang. Kumbakarna menyanggupi tetapi bukannya untuk membela kakaknya yang angkara murka, namun demi untuk membela bangsa dan negara Alengkadiraja.Dalam pertempuran ini pula Kumbakarna dapat dikalahkan dan gugur sebagai pahlawan bangsanya. Dengan gugurnya sang adik, akhirnya Rahwana menghadapi sendiri Rama. Pad akhir pertempuran ini Rahwana juga dapat dikalahkan seluruh pasukan pimpinan Rama. Rahmana mati kena panah pusaka Rama dan dihimpit gunung Sumawana yang dibawa Hanuman.
Setelah semua pertempuran yang dasyat itu dengan kekalahan dipihak Alengka maka Rama dengan bebas dapat memasuki istana dan mencari sang istri tercinta. Dengan diantar oleh Hanuman menuju ke taman Argasoka menemui Shinta, akan tetapi Rama menolak karena menganggap Shinta telah ternoda selama Shinta berada di kerajaan Alengka. Maka Rama meminta bukti kesuciannya, yaitu dengan melakukan bakar diri. Karena kebenaran kesucian Shinta dan pertolongan Dewa Api, Shinta selamat dari api. Dengan demikian terbuktilah bahwa Shinta masih suci dan akhirnya Rama menerima kembali Shinta dengan perasaan haru dan bahagia. Dan akhir dari kisah ini mereka kembali ke istananya masing-masing.
Dalam waktu sudah cukup lama ditinggal berburu, Shinta mulai mencemaskan Rama, maka meminta Lesmana untuk mencarinya. Sebelum meninggalkan Shinta seorang diri Lesmana tidak lupa membuat perlindungan guna menjaga keselamatan Shinta yaitu dengan membuat lingkaran magis. Dengan lingkaran ini Shinta tidak boleh mengeluarkan sedikitpun anggota badannya agar tetap terjamin keselamatannya, jadi Shinta hanya boleh bergerak-gerak sebatas lingkaran tersebut. Setelah kepergian Lesmana, Rahwana mulai beraksi untuk menculik, namun usahanya gagal karena ada lingkaran magis tersebut. Rahwana mulai cari siasat lagi, caranya ia menyamar yaitu dengan mengubah diri menjadi seorang brahmana tua dan bertujuan mengambil hati Shinta untuk memberi sedekah. Ternyata siasatnya berhasil membuat Shinta mengulurkan tangannya untuk memberi sedekah, secara tidak sadar Shinta telah melanggar ketentuan lingkaran magis yaitu tidak diijinkan mengeluarkan anggota tubuh sedikitpun! Saat itu juga Rahwana tanpa ingin kehilangan kesempatan ia menangkap tangan dan menarik Shinta keluar dari lingkaran. Selanjutnya oleh Rahwana, Shinta dibawa pulang ke istananya di Alengka. Saat dalam perjalanan pulang itu terjadi pertempuran dengan seekor burung Garuda yang bernama Jatayu yang hendak menolong Dewi Shinta. Jatayu dapat mengenali Shinta sebagai puteri dari Janaka yang merupakan teman baiknya, namun dalam pertempuan itu Jatayu dapat dikalahkan Rahwana.
Disaat yang sama Rama terus memburu kijang kencana dan akhirnya Rama berhasil memanahnya, namun kijang itu berubah kembali menjadi raksasa. Dalam wujud sebenarnya Marica mengadakan perlawanan pada Rama sehingga terjadilah pertempuran antar keduanya, dan pada akhirnya Rama berhasil memanah si raksasa. Pada saat yang bersamaan Lesmana berhasil menemukan Rama dan mereka berdua kembali ke tempat semula dimana Shinta ditinggal sendirian, namun sesampainya Shinta tidak ditemukan. Selanjutnya mereka berdua berusaha mencarinya dan bertemu Jatayu yang luka parah, Rama mencurigai Jatayu yang menculik dan dengan penuh emosi ia hendak membunuhnya tapi berhasil dicegah oleh Lesmana. Dari keterangan Jatayu mereka mengetahui bahwa yang menculik Shinta adalah Rahwana! Setelah menceritakan semuanya akhirnya si burung garuda ini meninggal.
Mereka berdua memutuskan untuk melakukan perjalanan ke istana Rahwana dan ditengah jalan mereka bertemu dengan seekor kera putih bernama Hanuman yang sedang mencari para satria guna mengalahkan Subali. Subali adalah kakak dari Sugriwa paman dari Hanuman, Sang kakak merebut kekasih adiknya yaitu Dewi Tara. Singkat cerita Rama bersedia membantu mengalahkan Subali, dan akhirnya usaha itu berhasil dengan kembalinya Dewi Tara menjadi istri Sugriwa. Pada kesempatan itu pula Rama menceritakan perjalanannya akan dilanjutkan bersama Lesmana untuk mencari Dewi Shinta sang istri yang diculik Rahwana di istana Alengka. Karena merasa berutang budi pada Rama maka Sugriwa menawarkan bantuannya dalam menemukan kembali Shinta, yaitu dimulai dengan mengutus Hanuman persi ke istana Alengka mencari tahu Rahwana menyembunyikan Shinta dan mengetahui kekuatan pasukan Rahwana.
Taman Argasoka adalah taman kerajaan Alengka tempat dimana Shinta menghabiskan hari-hari penantiannya dijemput kembali oleh sang suami. Dalam Argasoka Shinta ditemani oleh Trijata kemenakan Rahwana, selain itu juga berusaha membujuk Shinta untuk bersedia menjadi istri Rahwana. Karena sudah beberapa kali Rahwana meminta dan ‘memaksa' Shinta menjadi istrinya tetapi ditolak, sampai-sampai Rahwana habis kesabarannya yaitu ingin membunuh Shinta namun dapat dicegah oleh Trijata. Di dalam kesedihan Shinta di taman Argasoka ia mendengar sebuah lantunan lagu oleh seekor kera putih yaitu Hanuman yang sedang mengintainya. Setelah kehadirannya diketahui Shinta, segera Hanuman menghadap untuk menyampaikan maksud kehadirannya sebagai utusan Rama. Setelah selesai menyampaikan maskudnya Hanuman segera ingin mengetahui kekuatan kerajaan Alengka. Caranya dengan membuat keonaran yaitu merusak keindahan taman, dan akhirnya Hanuman tertangkap oleh Indrajid putera Rahwana dan kemudian dibawa ke Rahwana. Karena marahnya Hanuman akan dibunuh tetapi dicegah oleh Kumbakarna adiknya, karena dianggap menentang, maka Kumbakarna diusir dari kerjaan Alengka. Tapi akhirnya Hanuman tetap dijatuhi hukuman yaitu dengan dibakar hidup-hidup, tetapi bukannya mati tetapi Hanuman membakar kerajaan Alengka dan berhasil meloloskan diri. Sekembalinya dari Alengka, Hanuman menceritakan semua kejadian dan kondisi Alengka kepada Rama. Setelah adanya laporan itu, maka Rama memutuskan untuk berangkat menyerang kerajaan Alengka dan diikuti pula pasukan kera pimpinan Hanuman.
Setibanya di istana Rahwana terjadi peperangan, dimana awalnya pihak Alengka dipimpin oleh Indrajid. Dalam pertempuran ini Indrajid dapat dikalahkan dengan gugurnya Indrajit. Alengka terdesak oleh bala tentara Rama, maka Kumbakarna raksasa yang bijaksana diminta oleh Rahwana menjadi senopati perang. Kumbakarna menyanggupi tetapi bukannya untuk membela kakaknya yang angkara murka, namun demi untuk membela bangsa dan negara Alengkadiraja.Dalam pertempuran ini pula Kumbakarna dapat dikalahkan dan gugur sebagai pahlawan bangsanya. Dengan gugurnya sang adik, akhirnya Rahwana menghadapi sendiri Rama. Pad akhir pertempuran ini Rahwana juga dapat dikalahkan seluruh pasukan pimpinan Rama. Rahmana mati kena panah pusaka Rama dan dihimpit gunung Sumawana yang dibawa Hanuman.
Setelah semua pertempuran yang dasyat itu dengan kekalahan dipihak Alengka maka Rama dengan bebas dapat memasuki istana dan mencari sang istri tercinta. Dengan diantar oleh Hanuman menuju ke taman Argasoka menemui Shinta, akan tetapi Rama menolak karena menganggap Shinta telah ternoda selama Shinta berada di kerajaan Alengka. Maka Rama meminta bukti kesuciannya, yaitu dengan melakukan bakar diri. Karena kebenaran kesucian Shinta dan pertolongan Dewa Api, Shinta selamat dari api. Dengan demikian terbuktilah bahwa Shinta masih suci dan akhirnya Rama menerima kembali Shinta dengan perasaan haru dan bahagia. Dan akhir dari kisah ini mereka kembali ke istananya masing-masing.
Tuesday, 16 April 2013
sekali saja !!!
aku tak kuasa ketika sakit menghampiri
aku tak sanggup untuk mencegahnya
aku hanya bisa diam dan bisu
hanya air mata yang dapat mewakili perasaan ku!!!
Tuhaaannnn......
sekali saja, aku ingin sakit ini hilang dari kepala ku
sekali saja, aku ingin liat senyum lucu itu
sekali saja, aku ingin mendengar tawa lepas itu
sekali saja, Tuhaaannn
Tuhaannn....
jika Engkau memberiku kesempatan
aku akan tertawa selepas-lepasnya...
bersama orang-orang yang ku sayang
sebelum aku kehilangan mereka
aku hanya bisa diam dan bisu
hanya air mata yang dapat mewakili perasaan ku!!!
Tuhaaannnn......
sekali saja, aku ingin sakit ini hilang dari kepala ku
sekali saja, aku ingin liat senyum lucu itu
sekali saja, aku ingin mendengar tawa lepas itu
sekali saja, Tuhaaannn
Tuhaannn....
jika Engkau memberiku kesempatan
aku akan tertawa selepas-lepasnya...
bersama orang-orang yang ku sayang
sebelum aku kehilangan mereka
Sunday, 31 March 2013
Tuhaaannn,aku takut
Tuhan.....
Mengapa Tawa
itu hilang....
Senyum itu
pupus....
Kini hanya
pertengkaran yang aku dengar...
Kini hanya
tangis yang aku lihat...
Lalu dimana
senyum itu??
Dimana tawa
itu??
Kenapa semua
menghilang begitu cepat??
Aku takut
Tuhannnn
Aku ketakutan............
Pertengkaran...kemarahan...emosi....
Yang aku
saksikan.....
Dan Kini hanya
aku sendiri disini
Sunyi....sepi...senyap....
Tapi tak ada
kedamaian....
Aku takut
Tuhannnnn
Aku
takut...............
Wednesday, 27 March 2013
secerca harapan
Aku bagaikan karang yang
berdiri di tengah lautan..
Sendiri....
Dan terus sendiri...
Ombak yang menghampiri
bagaikan masalah yang menggoda
Aku harus kuat jika aku
ingin tetap bertahan
Semakin besar ombak itu
Seharusnya semakin kuat
pertahananku...
Tapi...
Bukankah sekuat apapun
benda itu kalau diterpa air terus menerus tetap akan rapuh?
Bagaimana dengan karang ku?
Apa aku juga lama kelamaan
akan merapuh??
Tolong akuuuuu...
Aku butuh sesuatu yang
dapat menegarkanku,
Agar aku tak cepat rapuh...
Dan menghilang terbawa
ombak...
Tolong akuuuu
Tolong......
Subscribe to:
Posts (Atom)
