- See more at: http://www.mybloggerwidgets.com/2013/04/add-snow-falling-effect-in-blogger.html#sthash.H9P4j4nT.dpuf

Thursday, 5 December 2013

"pelangi senja untuk Ichel"



PELANGI SENJA UNTUK ICHEL
           
Di sore hari, seperti biasa Ichel dan Iko duduk dibukit belakang rumah Ichel. Setiap sore ke bukit untuk melihat senja yang indah dibalut warna keemasannya.
Ichel adalah gadis cantik yang pintar dan ceria. Sedangkan iko adalah seorang pria yang gagah dan kuat, dia sahabat Ichel dari kecil. Iko selalu menjaga Ichel, Iko sangat sayang pada Ichel. Mereka sekarang duduk dibangku SMA.
Suatu hari, tiba-tiba Ichel sesak napas dan dia batuk-batuk sampai mengeluarkan darah dari mulutnya. Sedangkan diluar kamar ,Mama Ichel memanggil.
“Ichel...makan sayang...sudah sore” teriak Mama, tapi tak ada jawaban dari Ichel. Mama terus memanggil hingga mama masuk ke kamar.
Ketika Mama membuka pintu, Mama terkejut dengan keadaan Ichel yang tergeletak di lantai dengan darah di seluruh tangan dan mulutnya. Ichel langsung di larikan kerumah sakit.
Setelah Dokter memeriksa ichel, dokter menyampaikan kepada Mama apa yang terjadi pada Ichel.
“Dok, bagaimana keadaan Ichel? Baik-baik saja kan, Dok?”
penyakit Ichel semakin parah, kanker paru-paru nya sudah memasuki stadium  III. Jadi,sedikit peluang untuk Ichel bertahan hidup.”
“maksud Dokter? Jadi Ichel gak bakalan sembuh?”
“kami semua ingin Ichel sembuh, Kami akan berusaha. Lebih baik kita berdoa untuk kesembuhan Ichel, jangan sampai Ichel kecapean apa lagi banyak pikiran yaa,Bu.” Jelas Dokter.
“baik,Dok. Saya akan berusaha. Terima kasih atas bantuannya,dok.”
Mama dan Ichel pulang ke rumah. Mama langsung memberi tahu keadaan Ichel pada Iko dan Iko terkejut mendengar berita itu. Mama menyuruh Iko untuk merahasiakan semua ini dan lebih hati-hati menjaga Ichel.
Seperti biasa, di sore hari Iko mengajak Ichel untuk melihat pelangi di senja hari, dibukit belakang rumah. Mereka duduk sambil menikmati indahnya pelangi di senja hari.
“Ko, jika suatu hari Ichel pergi, Ichel harap senja ini akan tetapa indah meski tanpa Ichel, Ichel gak mau lihat senja ini rusak. Ichel ingin tetap seperti sekarang.”
“tenang aja, Chel. Iko akan tetap menjaga senja ini dengan baik, Iko juga gak mau liat senja ini sedih tanpa Ichel.”
“Iko akan berusaha supaya pelangi dan senja ini akan selalu indah. meskipun Ichel pergi,Ichel akan selalu ada dihati Iko dan senja yang ada disini.”
“Iko janji ya? Kalo Ichel pergi,Iko tetap jadi sahabat Ichel? Iko mau kan sayang sama Ichel? Ngejagain Ichel,ada buat Ichel. Iko jani ya kita akan tetap bersama?”
“Iko janji! Iko mau ngelakuin itu semua, Iko sayang banget sama Ichel. Ichel itu udah jadi adik Iko, jadi Ichel gak usah takut kehilangan Iko. Asal Ichel jangan pergi ninggalin Iko ya?”
Mereka berjanji akan selalu setia selamanya. Tanpa terasa air mata iko pun terjatuh. Iko tidak bisa membayangkan jika suatu saat nanti semua yang dikatakan Ichel akan kenyataan. Iko belum siap jika melihat Ichel yang selalu tegar dan semangat tiba-tiba terbaring lemah di rumah sakit, menanti detik terakhirnya.
Waktu terus berjalan, penyakit Ichel sering kambuh. Pada suatu hari ketika Ichel dan Iko balik sekolah, tiba-tiba dijalan Ichel batuk-batuk dan mengeluarkan darah.
“Ichel kenapa? Sakit?” kata Iko dengan panik. Sedangkan Ichel tetap batuk-batuk, “Ichel....jawab Iko. Kita pulang aja ya? Kapan-kapan deh beli bukunya.”
“nggak,ko. Ichel gak apa-apa. Ichel Cuma batuk biasa.”
“Ichel kecapean dan harus istirahat. Iko gak mau Mama Ichel marah.”
“ nggak, Mama gak bakal marah. Ichel kan gak apa-apa. Lanjut aja yuuk?” ajak Ichel.
“ ya udah yuuk.”
Ichel dan Iko menuju toko buku. Setelah sampai disana Ichel dan Iko memilih buku yang mereka suka. Ichel langsung menuju ke suatu tempat dimana sebuah buku tertata dengan indahnya. Ichel ingin beli buku itu, tapi bukunya gak dijual. Siapa yang mau baca, harus baca disitu. Ichel memaksa penjaga toko untuk memberikan buku itu. Ichel dan penjaga toko berdebat cukup lama hingga akhirnya dada Ichel sakit dan jatuh pingsan. Iko segera membawa Ichel kerumah sakit dan menghubungi Mama.
Ketika dirumah sakit, Iko dan mama sedang membicarakan penyakit Ichel yang semakin parah. Tanpa sengaja Ichel mendengar semua pembicaraan mereka, Ichel pun langsung marah pada mereka.
“jadi yang barusan Ichel dengar itu benar? Ichel kena kanker paru-paru? Kenapa Mama gak cerita sama Ichel? selama ini Iko juga tahu tentang penyakit Ichel? Iko tega sama Ichel!! Kenapa kalian tega sama Ichel? Kenapa Ichel gak di kasih tahu?”
“kalian udah gak sayang sama Ichel. Kalian bohong!! Kalian bilang Ichel gak apa-apa. Selama 6 bulan kalian merahasiakan semua ini? Kalian jahat!!Ichel benci kalian!!!”
Ichel pergi entah kemana, Iko dan mama terus mengejar Ichel,tapi sayang Ichel gak ketemu.
Beberapa hari berlalu, Ichel belum ditemukan. Iko dan mama sudah mencari Ichel kemana-mana,menghubungi teman-temannya,tapi hasilnya tetap nihil. Iko gak tahu mau nyari Ichel kemana lagi,Iko sedih dan menyesal atas semua kejadian ini.
Waktu Iko lagi nyari Ichel ditaman, tiba-tiba Iko ingat bukit belakang rumah. Tanpa pikir panjang Iko langsung lari menuju bukit. Dibukit, Iko melihat sesosok gadis cantik nan anggun, dengan rambut panjang yang terurai dan wajah yang sangat pucat. Gadis itu sedang duduk menatap senja yang indah dan kicau burung yang merdu semakin meyakinkan bahwa gadis itu adalah Ichel.
“pulang yuk,Chel? Kamu lagi sakit, harus istirahat.” Kata Iko.
“Ichel gak mau pulang! Biarin aja Ichel sakit, percuma kan Ichel hidup kalo gak bisa sembuh?”
“Ichel mau disini sama pelangi dan senja, juga bukit yang selalu menemani Ichel. Ichel gak mau ninggalin tempat ini,Ko!”
“iya,Chel. Iko tahu kok! Tapi mama khawatir, kemarin mama sakit mikirin Ichel. Mama sayang sama Ichel, Ichel gak sayang sama Mama?” bujuk Iko.
“Ichel sayang sama Mama, tapi kenapa Mama sama Iko tega ngebohongi Ichel? “
“Ichel mau tahu kenapa Mama bohong?” tanya Iko.
“karena Mama sayang sama Ichel. Mama gak mau Ichel tambah sakit kalo tahu semuanya. Mama juga mau cerita,tapi mama nunggu waktu yang tepat,Chel.”
“tapi caranya salah,Ko! Terus kapan mama ngasih tahunya? Saat Ichel sekarat? Saat Ichel mau mati?”
“gak gitu,Chel...”
“udah deh,mending Iko pergi. Tinggalin Ichel sendiri, Ichel gak mau di ganggu!!” bentak Ichel dengan nada tinggi.
Ichel beranjak dari tempat duduk, tapi apa yang terjadi? Ichel pingsan. Iko membawa Ichel ke rumah sakit. Waktu terus berjalan, 3 jam sudah Ichel tak sadarkan diri. 4 jam, 5 jam, hingga 6 jam Ichel tak sadar juga. Dokter semakin khawatir dengan keadaan Ichel. Dokter berusaha semaksimal mungkin, tapi keadaan Ichel semakin kritis.
Mama dan Iko semakin cemas, mereka takut hari itu akan terjadi sekarang. Mereka hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar memberi kesembuhan kepada Ichel. Semoga Ichel bisa sadar dan sehat kembali.
Setelah melewati masa krisisnya. Akhirnya, Ichel terbangun. Mama dan Iko sangat bahagia, tapi keadaan Ichel masih terlihat lemah. Wajahnya pucat pasi.
Ichel mau ke bukit” seru Ichel.
jangan, Ichel lagi sakit” jawab Iko.
Ichel mau sekarang,Ko. Ichel mau liat pelangi!” ucap Ichel dengan nada tinggi.
Melihat keadaan Ichel yang memaksa, akhirnya mama meminta izin pada dokter. Meski tak diizinkan, mama tetap merayu dokter hingga akhirnya dokter mengizinkan. Mereka bersiap-siap mengantar Ichel ke bukit.
Ichel dan Iko duduk di tempat biasa mereka melihat pelang senja.
Iko inget janji iko?”tanya Ichel
“inget” jawab Iko lirih
Di surga ada gak tempat seperti ini?
surga lebih indah dari ini,Chel.” Iko menjawab dengan mata berkaca-kaca.
tapi Ichel mau bukit,pelang dan senja yang ada di sini. Bukan yang lain”
Iko terdiam mendengar ucapan Ichel. “Iko jaga  senja ini yaa. Jangan biarkan mereka sedih..” Ichel tersenyum pada Iko. Iko pun membalas dengan senyuman.
Ichel meminjam bahu Iko untuk sandaran. Mereka terhanyut oleh keindahan senja yang ada di depan mereka. Setelah lama terdiam, Iko baru menyadarinya, Ichel terlelap. Entah ia terlelap sementara, atau terlelap untuk selamanya.
Chel...Ichel...” Iko menggoyangkan punggung Ichel. Tak ada respon dari Ichel.
Dokter....Dokter...” Dokter yang sedari tadi menunggu di bawah bareng Mama, seketika berlari ke arah teriakan Iko.
Dokter langsung memeriksa denyut nada Ichel dan ternyata denyut itu pun telah pergi bersama tenggelamnya sang dewa langit. Mama menangis, berteriak memanggil nama Ichel. Mama semakin hiteris, dokter dan Iko tak dapat menenangkan Mama. Di peluknya Ichel yang kini telah menjadi jazad Ichel oleh Mama. Iko hanya bisa mengeluarkan air mata tanpa isak tangis, di pandangnya jazad Ichel yang kini telah terbalut gelapnya malam.
Setelah kematian Ichel, Iko sering mengunjungi makam Ichel dan duduk di tempat biasa sambil menatap pelangi sen ja. Seperti hari ini, Iko sengaja menemui makam Ichel dengan seikat mawar putih, bunga kesukaan Ichel.
“hari ini, hari satu tahun kepergian Ichel, tapi Iko belum bisa menerima ini, Chel. Iko kangen Ichel, juga pelangi senja yang ada di sini. Iko menjaga pelangi senja ini agar tetap indah,Chel. Ichel harus tahu, Iko ngelakuin ini semua untuk Ichel. Sekarang ini kado dari Iko untuk Ichel. Pelangi senja terindah dengan warna jingganya, untuk Ichel sahabat yang selalu ada di hati Iko, selamanyaa...”

Thursday, 21 November 2013

KETAN BINTUL



KETAN BINTUL

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0f2GtbqCpyp8TCtXckR3aJNA_PbOeBKQGbINyY1DTBZOdvLMutnNIvMcZyS-DhgyLisUBDAFnMMWDFKp4HeuMfiib1mB80A4GQFfIVTGPQDyC6tlFMF4Z0OpAqUi_DL3Ibcwjqy5zJA/s320/Ketan-bintul-2.jpgketan-bintul.jpg

Resep Mebuat Ketan Bintul
  1. 250 ml santan dari 1/4 butir kelapa
  2. 1/2 sendok teh garam
  3. 200 gram beras ketan, direndam selama 2 jam
Bahan Serundeng:
  1. 1/4 butir kelapa muda, diparut
  2. 3/4 sendok teh garam
  3. 1/4 sendok teh gula pasir
  4. 2 lembar daun jeruk, dibuang tulangnya
  5. 1 lembar daun salam
Bumbu Halus:
  1. 8 butir bawang merah
  2. 2 siung bawang putih
  3. 1 sendok teh ketumbar bubuk
  4. 2 buah cabai merah besar
  5. 2 buah cabai merah keriting
Cara membuat Ketan Bintul :
  • Serundeng, campur kelapa dengan bumbu halus, daun jeruk, daun salam, garam, dan gula pasir. Sangrai hingga matang dan kering. Angkat. Haluskan. Sangrai kembali hingga benar-benar kering.
  • Didihkan santan dan garam. Masukkan beras ketan. Masak sambil diaduk hingga meresap. Angkat. Kukus  di atas api sedang 15 menit. Tumbuk hingga halus.
  • Letakkan ketan dalam sebuah loyang kotak 16x8x5 cm. Ratakan. Potong-potong ketan.
  • Sajikan bersama taburan serundeng.

KETAN BINTUL
Di Banten ada tradisi yang sudah berlangsung sejak 15 Abad yang lalu, suatu kebiasaan yang sangat sulit untuk dilupakan, karena kebiasaan ini hadir bukan hanya sebagai santapan pembuka dibulan Ramadhan saja, tetapi sudah menjadi makanan keseharian bagi masyarakat Banten dari berbagai macam kalangan dan golongan.
Namun Ketan Bintul akan lebih mudah kita jumpai pada saat bulan Ramadhan disepanjang daerah pinggiran pasar lama Serang, dijual dengan harga murah dengan uang Rp500,00,- kita sudah memperoleh 3 potong. 

Karena bagi masyarakat Banten sendiri keberadaan Ketan Bintul dibulan Ramadhan ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan."Tanpa Ketan Bintul dibulan Ramadhan ini, terasa tidak puasa", begitulah adagium yang sudah mengakar di Banten.
 
Konon menurut cerita dari orang-orang tua terdahulu, ketan bintul merupakan makanan kegemaran Sultan Maulana Hasanuddin, seorang pangeran yang menjadi panutan masyarakat kerajaan Banten pada waktu itu. Padahal makanan ini diketahui adalah makanan khas rakyat biasa. 
Karena seorang Sultan memiliki budi pekerti yang tinggi dan selalu menjadi contoh ahlak dan prilakunya dimata rakyatnya, maka sejak rakyat mengetahui seorang Sultan juga menyukai ketan bintul, 
Maka sejak itulah mulai menjadi budaya, bila seseorang berbuka puasa dengan ketan bintul maka seakan-akan menghargai dan menghormati Sultan. Dan ada kebanggaan tersendiri saat menikmatinya.
Padahal kita tahu kental bintul dilihat dari model, rupa dan bahan yang sama dengan uli atau gemblong makanan khas lain yang ada di Banten juga. Bahkan bahan dan cara pembuatannya tidak jauh berbeda yakni dari beras ketan. Namun masyarakat Banten adalah masyarakat yang selalu menghargai peninggalan nenek moyangnya, adalah hal yang wajar bila masih terobsesi pada hikayat lama, disamping itu ketan bintul mempunyai keunikan yang membedakan dari makanan yang sejenisnya. 
Biasanya masyarakat Banten khususnya Serang yang mempunyai keluarga dan kerabat yang banyak terbiasa membuat sendiri panganan tersebut, mungkin memanfaatkan beras ketan dari hasil panennya, tapi yang pasti untuk memberikan suguhan yang khas bagi para tamu dan keluarga pada saat berbuka puasa.

Ketan bintul terbuat dari beras ketan yang dikukus, setelah nampak matang, lalu di letakan pada sebuah wadah yang sudah disiapkan, dahulu wadah tersebut dari bekas karung beras yang terbuat dari plastik yang tidak ada gambarnya atau merknya karena akan mengotori ketan yang akan ditumbuk ketika gambar itu luntur, diletakan dibawah pada lantai atau semen yang rata sebagai tilam. Ketan yang sudah dipastikan matang tersebut kemudian ditumbuk halus masih dalam keadaan panas dengan sebuah alu kayu yang ujungnya diberi pelapis dari plastik atau alat penumbuk lainnya yang bersih dan tidak mudah luntur. 

Menumbuknyapun harus dengan tenaga yang besar, disini perlu diperhatikan beras yang sudah menjadi ketan tersebut jangan sampai kehilangan panasnya, agar pada saat menumbuk cepat halus dan empuk. Makanya membutuhkan kecepatan dan kecermatan serta mengerti betul bagian-bagian mana yang belum tertumbuk.
Sambil membolak-balik penumbukan terus dilakukan hingga diyakini tidak ada bagian sedikitpun yang tidak tertumbuk.

Memang melakukannya tidak boleh ada istirahat, karena panas yang dikandung pada ketan akan cepat menguap dan lekas menjadi dingin, bila ini yang terjadi ketan akan sangat keras ditumbuknya maka akan sulit mendapatkan hasil yang bagus dan sempurna, kemungkinan juga hasilnya akan gagal. 

Untuk itu pekerjaan semacam ini harus dilakukan minimal dua orang, dengan membagi tugas saling bergantian, satu menumbuk dengan alat penumbuk berupa alu kayu yang ada bebannya, satu lagi membolak-balikan agar merata halusnya. Pekerjaan yang dilakukan dua orang biasanya akan maksimal. 

Bila ingin menghasilkan yang lebih bagus, gurih dan ada rasanya, pada saat pengukusan beras ketan dicampur dengan parutan kelapa dan sedikit garam. Selain itu pada saat penumbukan harus mengerahkan tenaga yang besar. Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan ukuran 5 kg beras ketan memakan waktu tidak kurang dari 1jam.

Apabila sudah terlihat rata halusnya yang ditandai lengketnya uli (ketan yang sudah ditumbuk halus), segera beberkan atau dibentuk sesuai keinginan tebal dan ukurannya, yang umum dijajakan pedagang biasanya berbentuk wajik yang dibungkus dengan daun pisang, agar awet dan tetap nampak kelihatan putih. 

Setelah itu siapkan parutan kelapa sesuai kebutuhan, lalu disangrai (digoreng tanpa minyak goreng), sampai terus diaduk-aduk agar merata matangnya. Kalau sudah nampak kecoklat-coklatan ditiriskan beberapa menit, kemudian digerus dengan menggunakan alat penggerus dari batu kali yang umum dipakai oleh ibu-ibu rumah tangga, sampai halus benar.

Bila sudah halus tambahkan gula pasir dan garam halus, satukan biar merata benar manis dan asinnya. Untuk menggugah selera ambil cabai merah secukupnya, iris kecil-kecil memanjang. Kemudian buatlah goreng bawang merah agar harum dan beraroma, Pisahkan dengan bubuk sangrai kelapa tadi (bintul) jangan dicampur. 

Menjelang berbuka puasa tiba sajikan uli yang sudah dipotong-potong tadi lalu taburkan diatasnya bintul, irisan cabai merah dan goreng bawang merah, ditemani segelas kopi atau teh manis, kelezatan dan kenikmatannya tak terbayangkan, apalagi diluar hujan turun rintik-rintik, dengan angin yang semilir membuat lupa diri ingin tambah dan tambah lagi,tanpa disadari waktu sholat mahgrib hampir habis. ***

Tuesday, 12 November 2013

janji 17 (part 6)



PART 6

Liburan semester terasa begitu cepat, ternyata tinggal dua minggu lagi tian nemenin adi di rumah sakit. Hari ini tian harus kembali ke purwokwrto, ada konsultasi dosen PA dan ngambil KHS. Tian janjian sama rahma di terminal , tapi rahma lamaaaaa pake buangeet... sampe jamuran nih pantat tian,heheee...
“parah loe lama banget ! nyasar kemana sih?? Baru juga berapa minggu gak ke PWT udah gak tahu jalan, huh!” tian ngedumel.
“apa sih loe? Ngomong apa? Gak denger... weeeee..hahaaaaa” rahma malah ngeledek tian.
            Tian dan rahma langsung capcus ke kampus nemuin dosen PA mereka. Kebetulan dosen mereka berbeda jadi harus pisah deh... Rahma udah ketemu sama dosen nya, sedangkan tian masih nyari keberadaan tuh dosen. Tian kayanya mulai esmosi deh sama tuh dosen dari tadi gak ketemu-ketemu.
“tok...tok...tok...” tian ngetuk pintu.
“iya, masuk.” Jawab Pak Dosen.
            Selang beberapa jam tian keluar dari ruangan dosen, tak ada beban di wajah tian. Begitupun dengan rahma yang biasa-biasa saja, bahkan lebih baik dari tadi. Semeter dua ini tian ngambil SKS full 24, tapi rahma kayanya gak deh.
Kayanya sayang deh kalo hari ini terbuang sia-sia. Tian sama rahma pun berencana untuk  jalan-jalan, yaa... ngilangin rasa penat gitu ! mereka langsung capcus ke tempat makan favorit mereka, gak jauh koq dari kampus.
            Sambil asyik makan ples becanda (maklum udah lama gak ketemu), tian liat sesosok mahluk yang udah femiliar di matanya, Damar...
“hai...” damar yang udah liat tian dari tadi langsung melambaikan tangannya, dan cowok itupun menghapiri dua sahabat itu. 
“hai mar...” jawab rahma yang emang girang banget sama damar.
“eh, tian ada disini? Rahma juga?”
“iya, mar. Ngapain lo disini?” tanya tian cuek.
“nongkrong aja. Kalian sendiri?”
“makan” jawab tian,
“damar.........” rahma langsung meluncurkan banyak banget pertanyaan ke damar, sedangkan tian asyik makan bakso yang ada dihadapannya.
            Hari sudah sore, waktunya tian pulang ke bumiayu. Sesampainya di bumiayu tian langsung ke rumah sakit tempat adi di rawat, tapi saat tian tiba di rumah sakit sesuatu yang tian takutkan malah terjadi saat itu.
Dengan wajah yang tak percaya tian mulai memasuki kamar adi. Dalam hati tian selalu berdoa agar ini semua hanya mimpi, tapi ketika tian melihat tubuh adi yang terbaring kaku air mata pun jatuh seketika. Tian shock, tak percaya dengan apa yang dia liat.  Tian bengong,tak ada kata dan tak ada air mata sama seperti saat adi kecelakaan.
“sabar ya Yan” ucap mama adi sambil memeluk tubuh tian.
           Tian masih tak percaya dengan yang dia liat, ini mimpi?? Ini gak mungkin nyata. Sudah satu jam berlalu, tian tetap diam ditengah tangis dan jeritan keluarga dan kerabat adi. Kemudian mama dan papa tiba di rumah sakit, papa langsung menggendong tian menuju mobil.
            Keesokan harinya,saat pemakaman adi berlangsung kondisi tian masih sama seperti kemarin. Kosong,tenang,tak ada kata,tak ada air mata, tapi dalam hati Tian menangis,menjerit menerima kenyataan pahit ini. Tian sangat terpukul,bahkan bisa dibilang Tian mengalami depresi.
            Dipandanginya rumah baru Adi,rumah Adi untuk selamanya, sederhana tapi begitu nyaman dan indah dengan taburan bunga yang segar. Tian masih tenang seolah tak ada beban. Ketika pemakaman selesai semua orang mulai meninggalkan Adi sendiri.
“sayang, ayo pulang” ajak mama dan papa. Tian tetap diam dengan pandangan kosong kearah makam Adi.
“Tian sayang,pulang yuk? Biarkan Adi tenang disana” rayu mama Adi. Tian pun tetap kekeh dengan sikapnya yang dingin.
Mama,papa dan semua keluarga Adi mulai bingung menghadapi sikap Tian. Mereka mengerti dengan perasaan Tian saat ini,tapi mereka gak mau Tian terus berlarut dengan keadaan. Akhirnya mereka menunggu Tian beberapa meter dari lokasi, mama berharap Tian segera sadar dengan semua ini.
Tian berjalan mendekati batu nisan Adi. Dia pandangi batu nisan itu, seperti ada rasa kecewa,marah,sedih bercampur jadi satu. Perlahan Tian membungkukan tubuhnya dan duduk di samping batu nisan Adi. Pertama air mata mulia jatuh membasahi pipi merah Tian, kemudian terdengar isak tangis yang begitu pedih.
“adi......salah aku apa?” ucap tian lirih. Tian berhenti menangis dan kembali ke sikap tian semula,diam.
Dipandangi makam adi, “kamu jahat,di!” itulah kata-kata tian sebelum meninggalkan makam adi.
Sampai dirumah tian masih seperti sebelumnya,diam. Mama yang dari kemarin kebingungan tetap diam menghadapi Tian, mau apa lagi coba? Ditanya aja diem,nangis enggak,marah enggak, lah Tian sih gimana?
Berhari-hari Tian seperti itu, mama semakin khawatir takut terjadi apa-apa dengan Tian. Akhirnya, papa dan mama mengajak tian pergi ke rumah adi untuk pengajian 7 hari meninggalnya adi.